GKJ Bumi Indah

Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga

Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga

Bacaan I: Keluaran 33:12–23Mazmur Tanggapan: Mazmur 9Bacaan II: 1 Tesalonika 1:1–10Bacaan Injil: Matius 22:15–22

Keluarga adalah tempat pertama kita belajar tentang kasih, pengampunan, tanggung jawab, dan iman. Namun, di tengah kesibukan pekerjaan, pendidikan anak, tuntutan ekonomi, dan perkembangan teknologi, kehidupan rohani keluarga sering kali terabaikan. Kita tinggal di rumah yang sama, tetapi semakin jarang berdoa bersama. Kita berusaha memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi terkadang lupa memperhatikan kebutuhan rohani keluarga.Karena itu, tema renungan kita hari ini, “Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga,” mengajak kita untuk kembali menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan keluarga.

Pertama, keluarga membutuhkan kehadiran Allah.

Dalam Keluaran 33:12–23, Musa memohon agar Tuhan menyertai perjalanan bangsa Israel. Musa menyadari bahwa keberhasilan perjalanan mereka tidak cukup ditentukan oleh kekuatan manusia, tetapi oleh kehadiran Allah.

Demikian pula kehidupan keluarga kita. Kita boleh memiliki pekerjaan yang baik, rumah yang nyaman, dan masa depan yang direncanakan dengan matang. Namun, semua itu tidak menjamin kedamaian apabila Allah tidak mendapat tempat dalam kehidupan kita.

Menegakkan altar keluarga berarti menyediakan waktu untuk berdoa, membaca firman Tuhan, dan menyerahkan pergumulan keluarga kepada-Nya. Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kita dapat memulainya melalui doa singkat setiap malam dan membaca firman Tuhan bersama.

Kedua, altar keluarga menumbuhkan ucapan syukur.

Mazmur 9 mengajak kita memuji Tuhan dengan segenap hati dan menceritakan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Melalui altar keluarga, kita belajar mengingat kebaikan Tuhan, bukan hanya membicarakan persoalan hidup.

Orang tua dapat mengajak anak-anak bersyukur atas kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan pemeliharaan Tuhan setiap hari. Ketika menghadapi kesulitan, keluarga belajar berdoa dan saling menguatkan. Ketika mengalami keberhasilan, keluarga tidak menjadi sombong, tetapi menyadari bahwa semuanya berlangsung dalam pemeliharaan Allah.

Keluarga yang bersyukur akan belajar melihat kehidupan dengan pengharapan, bahkan ketika keadaan belum sesuai dengan keinginan mereka.

Ketiga, altar keluarga harus menghasilkan iman yang nyata.

Dalam 1 Tesalonika 1:1–10, Paulus memuji jemaat Tesalonika karena iman mereka menghasilkan pekerjaan, kasih menghasilkan pelayanan, dan pengharapan menghasilkan ketekunan. Iman mereka tidak berhenti pada perkataan, tetapi terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pula keluarga Kristen. Doa bersama harus tercermin dalam sikap saling menghormati, kejujuran, kesetiaan, kepedulian, dan kesediaan mengampuni. Orang tua tidak cukup hanya mengajarkan anak berdoa, tetapi juga perlu menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan.

Altar keluarga bukan tempat untuk menunjukkan bahwa kita adalah keluarga yang sempurna. Sebaliknya, altar keluarga menjadi tempat kita bersama-sama belajar memperbaiki diri dan bertumbuh dalam kasih Tuhan.

Keempat, berikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya.

Dalam Matius 22:15–22, Yesus berkata, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Kita memiliki berbagai tanggung jawab: bekerja, mengurus keluarga, dan memenuhi kewajiban sebagai warga masyarakat. Namun, jangan sampai kesibukan tersebut mengambil seluruh waktu dan perhatian kita sehingga Allah dilupakan.

Menegakkan altar keluarga berarti memberikan tempat yang layak bagi Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kita mengatur waktu bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk membangun hubungan dengan Tuhan dan sesama anggota keluarga.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, marilah kita mulai membangun altar keluarga dari hal-hal sederhana: berdoa bersama, membaca Alkitab, saling mendengarkan, mengampuni, dan mengucap syukur.

Keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak memiliki masalah, melainkan keluarga yang terus mencari Allah dan berjalan bersama-Nya.

Kiranya Tuhan menolong setiap keluarga untuk kembali menghadap-Nya, menegakkan altar keluarga, dan menjadikan rumah kita tempat kasih, iman, dan pengharapan bertumbuh.

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article

Menolak Berhala, Memilih Setia

Keluaran 32:1–14; Mazmur 106:1–6, 19–23; Filipi 4:1–9; Matius 22:1–14 Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di tengah dunia yang menawarkan banyak hal untuk dikejar: kekayaan,

Read More →