GKJ Bumi Indah

“HATI YANG DICARI TUHAN”

“HATI YANG DICARI TUHAN”

MIKHA 6:1-9 | MD

Shalom! Menjelang Perjamuan Kudus yang akan kita rayakan pada 7 Juni 2026
mendatang, firman Tuhan pada hari ini mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan hidup.
Dari pekerjaan, target, tagihan, urusan rumah tangga, dan rutinitas yang terus berjalan. Sebab
sering kali hidup membuat kita tetap bergerak, tetapi hati kita perlahan menjauh dari Tuhan.
Maka, Firman Tuhan hari ini mengajak kita berefleksi dari Kitab Mikha 6:1–9. Siapakah dia??
Mikha adalah seorang nabi desa, berasal dari Moresyet, wilayah kecil di Yehuda. Ia bukan nabi
istana. Ia bukan tokoh elite Yerusalem. Tapi, justru dari pinggiran desa itulah Tuhan memanggil
Mikha untuk menegur pusat kehidupan bangsa: Yerusalem, kota suci, pusat ibadah, pusat
agama, tempat Bait Allah berdiri.
Pada zaman itu umat merasa aman. Mereka berpikir, “Kami umat Tuhan. Kami punya Bait
Allah. Kami tetap beribadah.” Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang berbeda. Ibadah berjalan,
korban dipersembahkan, ritual tetap dilakukan, tetapi hidup mereka jauh dari keadilan, kasih,
dan kerendahan hati. Karena itulah Mikha pasal 6 dibuka dengan gambaran seperti “ruang
sidang”. Mari kita sejenak mengimajinasikan bahwa Tuhan sedang menggugat umat-Nya di
dalam sebuah ruangan sidang. Gunung-gunung dan dasar bumi dipanggil menjadi saksi. Tuhan
bertanya, “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu?” Bukan karena Tuhan tidak tahu
jawabannya, tetapi karena Tuhan sedang menunjukkan betapa relasi Dia dengan umat-Nya itu
telah rusak. Lalu Tuhan mengingatkan bagaimana Ia membebaskan umat dari Mesir, memimpin
mereka melalui Musa, Harun, dan Miryam, menjaga mereka dalam perjalanan dari Sitim sampai
Gilgal. Dengan kata lain, Tuhan sedang berkata: “Aku tidak pernah meninggalkan kamu. Tetapi
mengapa hatimu menjauh dari-Ku?”
Kemudian di ayat 6–7, umat mulai menjawab. Namun jawaban mereka menunjukkan
bahwa mereka belum sungguh memahami inti persoalannya. Mereka berpikir mungkin Tuhan
kurang puas dengan persembahan mereka. “Apakah Tuhan mau ribuan domba? Puluhan ribu
curahan minyak?” Mereka mengira persoalannya terletak pada kurang besarnya ritual dan
persembahan. Tetapi melalui ayat 8, Tuhan membawa umat kembali kepada inti iman yang
sebenarnya. “Telah diberitahukan kepadamu apa yang baik: selain berlaku adil, mencintai
kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”
Jemaat yang dikasihi Tuhan, perkataan ini tidak sedang menolak ibadah atau korban
persembahan. Tuhan tidak sedang berkata bahwa ritual itu tidak penting. Tetapi Tuhan sedang
menegur ketika ibadah hanya berhenti pada ritual, sementara hidup sehari-hari berjalan jauh
dari kehendak-Nya. Dan di sinilah firman Tuhan melalui Mikha menjadi penting bagi kita yang
sedang mempersiapkan diri menyambut Perjamuan Kudus. Sebab, persiapan Perjamuan Kudus
bukan hanya mempersiapkan pakaian terbaik, hadir di gereja, atau mengikuti liturgi dengan
baik. Akan tetapi, persiapan Perjamuan Kudus pertama-tama adalah tentang mempersiapkan
hati di hadapan Tuhan.
Oleh karenanya, dari bacaan Mikha hari ini kita mau berefleksi akan tiga hal sederhana
namun sungguh penting:
3Pertama, Tuhan tidak hanya melihat ibadah, tetapi juga seluruh kehidupan kita.
Inilah inti teguran Mikha. Umat tetap datang beribadah, tetapi hidup sehari-hari mereka
bertolak belakang dengan kehendak Tuhan. Dan bukankah itu bisa terjadi juga pada kita hari
ini? Kita bisa rajin datang ke gereja, ikut pelayanan, bahkan ikut Perjamuan Kudus, tetapi di
tempat kerja kita mudah berlaku tidak adil. Seorang atasan memeras bawahannya dengan kata-
kata kasar. Rekan kerja saling menjatuhkan demi promosi. Pedagang menaikkan timbangan
demi untung lebih besar. Pegawai menerima “uang pelicin” karena semua orang juga
melakukannya. Pengusaha terlambat membayar gaji pekerja. Bahkan di rumah, kita bisa sibuk
beribadah tetapi keras kepada pasangan dan anak.
Tuhan tidak berkata bahwa ibadah itu tidak penting. Tetapi Tuhan menolak ibadah yang
berhenti di altar namun tidak turun ke kehidupan. Karena itu menjelang Perjamuan Kudus
nanti, pertanyaan bagi kita masing-masing bukan hanya, “Apakah saya nanti akan ikut
menikmati roti dan anggur?” Tetapi juga, “Apakah sekarang hidup saya sedang berjalan di jalan
Tuhan?” Mari berefleksi sejenak.
Kedua, bukan penampilan rohani, tetapi kesetiaan hati. Ayat 8 berkata, “mencintai
kesetiaan”. Dalam bahasa aslinya, kata ini berbicara tentang kasih yang setia, kasih yang tulus,
kasih yang tetap melekat kepada Tuhan. Jadi persoalan umat pada zaman Mikha sebenarnya
bukan sekadar mereka kurang beribadah. Justru ibadah mereka tetap berjalan. Korban tetap
dipersembahkan. Bait Allah tetap ramai. Tetapi hati mereka perlahan menjauh dari Tuhan.
Mereka merasa aman karena identitas keagamaan mereka. Mereka mempunyai Bait
Allah di Yerusalem. Mereka adalah Israel, umat pilihan Allah! Mereka tetap menjalankan ritual.
Namun Tuhan melihat bahwa kehidupan mereka tidak lagi mencerminkan hubungan yang
hidup dengan-Nya. Dan tanpa sadar, hal seperti itu juga bisa terjadi dalam kehidupan kita hari
ini. Kita dapat terbiasa dengan kehidupan bergereja. Terbiasa datang ibadah. Terbiasa
menyanyi, berdoa, mengikuti liturgi, bahkan mengikuti Perjamuan Kudus. Tetapi di tengah
rutinitas itu, hati kita bisa menjadi lelah dan hambar. Hubungan dengan Tuhan perlahan
berubah menjadi kebiasaan, bukan lagi kerinduan.
Hal itu sering terjadi bukan karena seseorang sengaja meninggalkan Tuhan, melainkan
karena hidup sehari-hari begitu menyita tenaga dan pikiran. Ada jemaat yang setiap hari
berangkat pagi pulang malam karena pekerjaan pabrik. Ada yang hidup di bawah tekanan
target kantor dan tuntutan perusahaan. Ada guru yang terus menguras kesabaran dan tenaga.
Ada pedagang yang memikirkan naik turunnya pemasukan. Ada pengemudi ojek online yang
tetap bekerja meski hujan dan panas karena kebutuhan keluarga tidak bisa menunggu.
Di tengah ritme hidup yang seperti itu, iman kadang perlahan menjadi formalitas. Mulut
masih berdoa, tetapi hati terasa jauh. Tetap datang ibadah, tetapi kehilangan sukacita dan
keintiman dengan Tuhan. Karena itu, firman Tuhan hari ini bukan pertama-tama datang untuk
menghakimi umat, melainkan memanggil umat untuk kembali. Tuhan mengingatkan bahwa
yang Ia kehendaki bukan sekadar penampilan rohani, tetapi hati yang tetap setia berjalan
bersama-Nya di tengah kehidupan yang nyata.
Ketiga, Perjamuan Kudus mengingatkan kita untuk kembali berjalan rendah hati
bersama Tuhan. Ayat 8 ditutup dengan kalimat: “hidup dengan rendah hati di hadapan
Allahmu.” Rendah hati berarti sadar bahwa kita hidup oleh anugerah Tuhan, bukan karena
4kekuatan sendiri. Dan ini penting menjelang Perjamuan Kudus. Sebab tidak ada seorang pun
yang benar-benar layak datang ke meja Tuhan karena kesempurnaannya. Kita datang bukan
karena hidup kita sudah bersih, tetapi karena Kristus yang membersihkan kita. Namun
kerendahan hati juga berarti mau dikoreksi. Mau bertobat. Mau memperbaiki relasi. Mau
meminta maaf. Mau berubah sedikit demi sedikit. Perjamuan Kudus bukan ritual kosong yang
diulang terus setiap dua bulan sekali. Akan tetapi, Perjamuan Kudus adalah panggilan untuk
kembali berjalan bersama Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, menjelang 7 Juni nanti, mari kita mempersiapkan diri bukan hanya dengan
hadir di gereja, tetapi dengan membuka hati di hadapan Tuhan. Biarlah kita belajar dari teguran
Mikha: jangan sampai kita sibuk dengan aktivitas rohani tetapi kehilangan kasih, keadilan, dan
kerendahan hati. Dan ketika nanti kita datang ke meja Perjamuan Kudus, biarlah kita datang
dengan hati yang jujur: “Tuhan, aku belum sempurna. Tetapi aku mau kembali berjalan bersama-
Mu.” Amin.

/md

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article

Percaya Dengan Tidak Gentar

Yeremia 20:7-13 | Mazmur 69:7-10, 16-18 | Roma 6:1-11 | Matius 10:24-39 Hidup beriman sering kali membawa kita pada situasi yang penuh tantangan. Yeremia, dalam

Read More →