Yeremia 20:7-13 | Mazmur 69:7-10, 16-18 | Roma 6:1-11 | Matius 10:24-39
Hidup beriman sering kali membawa kita pada situasi yang penuh tantangan. Yeremia, dalam bacaan Yeremia 20:7‑13, merasakan betapa beratnya panggilan sebagai nabi. Ia ditolak, diejek, bahkan merasa seakan Tuhan memperdaya dirinya. Namun di tengah pergumulan itu, Yeremia tetap berseru: “Tetapi TUHAN menyertai aku seperti seorang pahlawan yang gagah perkasa” (Yer. 20:11). Keyakinan ini membuatnya tidak gentar, sebab ia percaya bahwa kuasa Tuhan lebih besar daripada ancaman manusia.
Mazmur 69:7‑10, 16‑18 menggambarkan penderitaan orang benar yang ditolak karena kesetiaannya kepada Allah. Pemazmur berseru memohon pertolongan, yakin bahwa Tuhan mendengar jeritan umat-Nya. Doa ini menunjukkan bahwa iman bukan berarti bebas dari kesulitan, melainkan keberanian untuk tetap percaya di tengah kesulitan. Percaya berarti berani berseru kepada Tuhan, meski dunia seakan menutup telinga.
Roma 6:1‑11 membawa kita pada inti Injil: melalui baptisan, kita telah mati bersama Kristus dan bangkit bersama Dia. Artinya, hidup lama yang dikuasai dosa sudah berakhir, dan kita dipanggil untuk hidup baru dalam kuasa kebangkitan. Hidup baru ini memberi keberanian, sebab kita tahu bahwa maut tidak lagi berkuasa atas kita. Percaya kepada Kristus berarti tidak gentar menghadapi ancaman, karena kemenangan-Nya sudah menjadi bagian kita.
Matius 10:24‑39 menegaskan bahwa menjadi murid Kristus bukanlah jalan yang mudah. Yesus sendiri berkata bahwa murid akan mengalami penolakan sebagaimana Guru mereka ditolak. Namun Yesus juga menegaskan: “Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa” (Mat. 10:28). Percaya kepada Kristus berarti menaruh keberanian pada janji-Nya, bahwa siapa yang setia sampai akhir akan menerima hidup kekal.
Menghidupi Iman Tanpa Gentar
- Percaya pada penyertaan Tuhan Yeremia mengajarkan bahwa meski ditolak, ia tetap yakin Tuhan menyertainya. Kita pun dipanggil untuk percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
- Berani berseru dalam doa Mazmur mencontohkan keberanian untuk berseru kepada Allah. Doa adalah senjata iman yang membuat kita kuat menghadapi tekanan.
- Hidup baru dalam Kristus Paulus menegaskan bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah. Hidup baru ini memberi keberanian untuk menolak dosa dan berjalan dalam kebenaran.
- Setia meski ditolak Yesus mengingatkan bahwa penolakan adalah bagian dari panggilan murid. Namun janji-Nya memberi kita keberanian untuk tetap setia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin menghadapi tekanan: aturan kerja yang tidak adil, godaan untuk kompromi, atau penolakan karena iman. Namun renungan ini mengingatkan kita bahwa percaya kepada Kristus berarti berani berdiri teguh, tidak gentar menghadapi ancaman. Percaya bukan sekadar kata, melainkan sikap hidup yang memandang kepada kuasa Tuhan lebih besar daripada kuasa dunia.
Percaya dengan tidak gentar berarti:
- Mengakui bahwa penderitaan adalah bagian dari perjalanan iman.
- Menyadari bahwa doa adalah kekuatan yang menghubungkan kita dengan Allah.
- Hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus yang memberi harapan.
- Setia meski ditolak, karena janji hidup kekal lebih berharga daripada kenyamanan sementara.
Penutup
Yeremia, Pemazmur, Paulus, dan Yesus sama‑sama menegaskan bahwa iman sejati adalah iman yang berani. Percaya dengan tidak gentar bukan berarti bebas dari masalah, melainkan tetap teguh dalam masalah karena yakin Tuhan menyertai. Mari kita hidup sebagai murid Kristus yang berani, percaya penuh pada janji-Nya, dan tidak gentar menghadapi dunia.
