Web Ekspor builds long-term collaborations with companies across sectors to strengthen export capacity, open international market access, and drive sustainable expansion. Through shared expertise, innovation, and strong logistics networks, we help businesses accelerate their journey toward becoming global players with measurable impact.
Tahun 1999 menjadi momen penting dalam sejarah awal terbentuknya GKJ Bumi Indah. Pada tahun tersebut, salah satu anggota Majelis GKJ Tangerang, Stevanus Wasiman, merasakan kerinduan untuk bersekutu dengan saudara-saudara seiman asal Jawa yang tinggal di sekitar Komplek Perumahan Bumi Indah. Kerinduan tersebut juga didorong oleh jarak yang cukup jauh, yaitu sekitar 25 kilometer, antara wilayah Bumi Indah, Pasar Kemis, Tangerang, dan GKJ Tangerang. Selama ini, orang-orang Kristen asal Jawa beribadah di GKJ Tangerang yang terletak di pusat Kota Tangerang, tepatnya di Jalan Sudirman No. 50. Namun, mayoritas warga Bumi Indah adalah buruh, sehingga cukup menyulitkan mereka untuk beribadah di gereja tersebut.
Kerinduan untuk bersekutu pun mulai dirintis. Stevanus Wasiman menyampaikan aspirasinya kepada Majelis GKJ Tangerang serta beberapa warga Kristen di Bumi Indah. Dukungan penuh datang dari warga jemaat, Majelis GKJ Tangerang, dan Pendeta Pramudianto. Berdasarkan data yang dikumpulkan, ditemukan bahwa sejumlah orang Kristen asal Jawa berdomisili di Komplek Perumahan Bumi Indah dan sekitarnya. Setelah rencana tersebut dijelaskan oleh Stevanus Wasiman, warga Kristen di Bumi Indah akhirnya mendukung penuh ide untuk mengadakan kebaktian rumah tangga.
Langkah awal untuk mewujudkan kerinduan itu dimulai dengan kebaktian rumah tangga pertama yang digelar di kediaman keluarga Stevanus Wasiman, di Komplek Perumahan Bumi Indah tahap 2. Kebaktian tersebut diselenggarakan pada bulan September 1999, tepat setahun setelah GKJ Tangerang didewasakan, yaitu pada 29 Agustus 1998. Dengan semangat dan kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan, Allah pun menyertai hamba-hamba-Nya. Kebaktian perdana yang diadakan pada Sabtu, 5 September 1999 pukul 16.00 WIB itu, dilayani oleh Sdr. Stevanus Sudah, seorang mahasiswa IAKM Yogyakarta yang kala itu sedang melakukan praktik kuliah. Saksi mata menjelaskan bahwa kebaktian tersebut dihadiri oleh orang-orang Kristen dari sekitar wilayah Bumi Indah, serta sejumlah jemaat (Wilayah Barat 1) dan anggota Majelis GKJ Tangerang.
Seiring berjalannya waktu, kebaktian rumah tangga tersebut berkembang menjadi kebaktian umum yang diadakan satu kali setiap bulan, pada Minggu sore, dengan lokasi tetap di kediaman Stevanus Wasiman. Dengan semakin meningkatnya antusiasme dan jumlah jemaat, frekuensi kebaktian umum kemudian ditingkatkan menjadi dua kali dalam sebulan, tetap dilaksanakan pada hari Minggu.
Jemaat mula-mula GKJ Bumi Indah memiliki keyakinan bahwa suatu saat kebaktian umum akan dapat diselenggarakan setiap hari Minggu, tidak lagi terbatas dua kali dalam sebulan. Dengan semangat kebersamaan, mereka bergotong-royong penuh antusias untuk membuat peralatan ibadah yang layaknya dimiliki oleh sebuah gereja, seperti mimbar, tempat lilin, taplak meja, dan lain sebagainya.
Perayaan Natal tahun 1999 menjadi momen yang sangat dinantikan. Jemaat mula-mula GKJ Bumi Indah sepakat untuk mengadakan kebaktian dan perayaan Natal perdana. Dalam semangat persatuan, mereka bahu-membahu menyambut Natal, dan sebuah panitia kecil pun dibentuk. Perayaan Natal tersebut akhirnya terlaksana dengan penuh sukacita, dipimpin oleh Pdt. Pramudianto. Jemaat yang hadir pun tidak lagi berjumlah 20 orang seperti sebelumnya, melainkan lebih banyak. Pdt. Pramudianto membawakan firman Tuhan dalam kebaktian Natal yang bersejarah tersebut.
Keyakinan jemaat mula-mula semakin kuat bahwa suatu hari, komunitas orang-orang Jawa Kristen di Bumi Indah akan berkembang menjadi sebuah Pepanthan GKJ Tangerang dan kemudian menjadi gereja dewasa. Iman mereka benar-benar membuahkan hasil. Jumlah jemaat terus bertambah, seiring dengan pertumbuhan iman mereka. Mengingat ruang yang semakin terbatas, kebaktian tidak lagi memungkinkan untuk dilangsungkan di rumah keluarga Stevanus Wasiman.
Jemaat mula-mula GKJ Bumi Indah kemudian sepakat untuk menyewa sebuah rumah toko (ruko) di Kompleks Perumahan Bumi Indah. Pada waktu itu, kebetulan terdapat banyak ruko yang tidak terpakai bahkan dibiarkan oleh pemiliknya. Mereka memutuskan untuk menyewa sebuah ruko di Blok RE Nomor 10 setelah mencari tahu dan menghubungi pemiliknya. Ruko tersebut menjadi tempat yang penuh kenangan bagi jemaat GKJ Bumi Indah, karena di sanalah kebaktian umum mulai dapat diselenggarakan setiap hari Minggu, seperti halnya ibadah di gereja-gereja yang telah mapan.
Mengingat banyaknya jemaat yang memiliki anak kecil, di ruko tersebut juga dibuka pelayanan Sekolah Minggu. Sebagai bentuk rasa syukur atas penyertaan Tuhan, kebaktian pertama yang diadakan di ruko tersebut dilayani oleh Pdt. Pramudianto, disertai dengan upacara potong tumpeng. Pada saat itu, Ketua Majelis GKJ Tangerang adalah Budi Widyatmoko.
Dengan menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, jemaat mula-mula GKJ Bumi Indah melalui perjalanan yang penuh suka dan duka. Kebahagiaan saat menggunakan ruko RE Nomor 10 untuk beribadah hanya berlangsung selama satu tahun. Pemilik ruko tersebut memutuskan untuk menggunakannya sendiri, sehingga jemaat tidak lagi diizinkan untuk menyewa atau mengontraknya. Dengan hati yang berat, mereka pun harus mencari tempat baru untuk beribadah. Tim pencari segera dikerahkan untuk menemukan ruko yang dapat disewa.
Harapan baru muncul ketika beberapa ruko bertuliskan "Milik Media Indonesia" ditemukan. Wahyu Agus Purwoto (Totok) kemudian menghubungi salah satu jemaat GKJ Tangerang yang bekerja sebagai wartawan di Media Indonesia. Dengan pertolongan Tuhan, tanpa proses yang berbelit-belit, salah satu ruko di Blok RC Nomor 16, yang dimiliki oleh Media Indonesia, berhasil disewa dengan harga yang relatif terjangkau. Bahkan, pihak Media Indonesia telah memberikan kunci ruko tersebut meskipun proses kontrak belum sepenuhnya diselesaikan.
Ruko RC Nomor 16 menjadi saksi perjalanan jemaat GKJ Bumi Indah hingga komunitas ini resmi menjadi Pepanthan GKJ Tangerang. Meskipun hanya berstatus sebagai ruko kontrakan, jemaat merasa tempat tersebut seperti milik mereka sendiri. Seiring dengan pelaksanaan ibadah di ruko tersebut, Pepanthan Bumi Indah terus berkembang, dan jumlah jemaat semakin meningkat.
Pelayanan kepada jemaat juga mengalami peningkatan signifikan dengan dibentuknya Komisi Anak, Komisi Warga Dewasa, dan Komisi Perbendaharaan. Perayaan Natal pertama di ruko ini diselenggarakan pada Januari 2002 dalam suasana yang sederhana, di mana jemaat duduk secara lesehan. Meskipun perayaan berlangsung dengan kesederhanaan, sukacita yang dirasakan jemaat sangat besar. Kehadiran jemaat dalam acara Natal tersebut juga sangat luar biasa.
Majelis GKJ Tangerang, beserta anggota Majelis Pepanthan Bumi Indah dan seluruh jemaat, menyadari bahwa di masa depan mereka harus memiliki gedung gereja sendiri. Mereka memahami bahwa tidak mungkin selamanya bergantung pada penyewaan ruko, meskipun pemilik ruko telah memberikan berbagai kemudahan. Oleh karena itu, pada tahun 2005, jemaat dan majelis Bumi Indah membentuk Tim Pengadaan Tempat Pembinaan Iman yang bertugas mencari dan membeli rumah di kompleks Perumahan Bumi Indah untuk dijadikan tempat pembinaan iman.
Tim ini segera bekerja dengan penuh dedikasi, bertanya ke berbagai pihak untuk mencari rumah yang sesuai, sambil menggalang dana melalui berbagai cara. Puji Tuhan, berkat kerja keras dan kekompakan tim—serta doa dari keluarga besar GKJ Tangerang, khususnya jemaat Pepanthan Bumi Indah—tim berhasil membeli dua rumah. Pembelian pertama adalah sebuah rumah di Blok RE 24, Perumahan Bumi Indah Tahap I, dengan luas tanah 248 m² dan bangunan seluas 54 m². Rumah kedua yang dibeli terletak bersebelahan, di Blok RE 25, dengan luas tanah 147 m² dan luas bangunan 54 m². Kedua rumah ini direncanakan untuk disatukan dan dijadikan sebuah bangunan gereja. Lokasi kedua rumah tersebut berada di Kelurahan Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang.
Sebelum menemukan rumah tersebut, tim sempat mempertimbangkan tanah di Kutabumi (Green Apel Futsal) dan Regency. Namun, rencana tersebut batal karena sebagian jemaat merasa nama daerah tersebut kurang cocok dengan nama Bumi Indah. Upaya juga dilakukan untuk mencari tanah di kompleks Bumi Indah Tahap III, tetapi gagal karena status kepemilikan tanah tidak jelas.
Sejalan dengan itu, jemaat Pepanthan Bumi Indah melakukan janji iman untuk pengadaan rumah ibadah. Usaha ini membuahkan hasil luar biasa, dengan terkumpulnya dana sekitar Rp 90 juta. Rumah di Blok RE 24 menjadi incaran, dan setelah melalui negosiasi, harganya disepakati sebesar Rp 55 juta, yang harus dibayar tunai pada hari itu juga. Melihat peluang besar ini, jemaat sepakat untuk segera membayar rumah tersebut. Dana yang digunakan berasal dari tabungan janji iman, yang ditransfer melalui tiga ATM masing-masing sebesar Rp 15 juta, ditambah Rp 10 juta secara tunai.
Sementara itu, proses pembelian rumah di Blok RE 25 penuh dengan tantangan. Rumah tersebut sempat diklaim milik seorang kerabat jemaat, namun setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, ditemukan bahwa sertifikat rumah tersebut palsu. Akibatnya, uang sebesar Rp 6 juta untuk notaris tidak dapat dikembalikan. Setelah diselidiki, rumah tersebut ternyata masih menjadi milik PT Arta Buana Sakti. Dengan bantuan Bapak Asnawi, tim mendapatkan informasi bahwa rumah tersebut dijual seharga Rp 98 juta. Dana yang tersedia saat itu hanya Rp 50 juta, sehingga rumah tersebut dibeli secara tunai sebagian, sementara sisanya diangsur dalam waktu satu bulan.
Pergumulan ini dibagikan oleh Bapak Wahyu Agus Purwoto (Totok) di depan jemaat pada kebaktian Minggu. Berbagai pihak memberikan bantuan, termasuk Bapak Sutimin yang meminjamkan Rp 10 juta, serta PTPI yang memberikan dana Rp 17 juta. Dengan dukungan tambahan dari Bapak Petrus sebesar Rp 25 juta, proses pelunasan rumah tersebut dapat dilakukan. Pada 19 Desember 2006, Pendeta Pramudianto, Bapak Wiji Sambodo, dan Bapak Iwan Herwanto menyelesaikan administrasi pembelian rumah di kantor PT Arta Buana Sakti di Jakarta. Tim pun melunasi kekurangannya di ATM dengan bantuan dana dari acara "Bagimu Negeri," yang mengumpulkan Rp 27 juta dan janji iman senilai Rp 40 juta.
Administrasi pembelian kedua rumah ini berlangsung dari tahun 2005 hingga 2006. Jemaat terus berdoa agar rumah-rumah yang telah direnovasi menjadi bangunan gereja sederhana tersebut dapat digunakan sebagai tempat pembinaan iman warga GKJ Bumi Indah, bahkan suatu hari dapat menjadi gedung gereja sepenuhnya. Pembangunan gedung gereja berlangsung dari tahun 2008 hingga 2010, dan hingga kini renovasi terus dilakukan.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, Majelis Pepanthan Bumi Indah membentuk Tim Perizinan pada tahun 2007, diketuai oleh Bapak Iwan Herwanto, yang juga menjabat sebagai majelis gereja. Tim ini segera bekerja, melakukan berbagai langkah seperti:
Mendekati aparat pemerintah setempat, mulai dari RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, hingga Polsek dan Kabupaten.
Menjalin komunikasi dengan tokoh masyarakat serta tokoh agama setempat.
Melakukan pendekatan kepada warga sekitar dengan mengikuti berbagai kegiatan sosial, seperti fogging, pengobatan gratis, bazar murah, hingga partisipasi dalam perayaan hari besar agama dan HUT RI.
Menyediakan data jemaat untuk mendukung administrasi perizinan. Berkontribusi dana dan kegiatan dalam lingkungan RT maupun RW.
Mengurus sertifikat rumah serta status kepemilikan ke notaris dan BPN.
Bekerja sama dengan FKUB Kabupaten Tangerang dan organisasi masyarakat lainnya.
Namun, hingga kini, izin untuk menggunakan kedua rumah di Blok RE 24 dan RE 25 yang telah disatukan menjadi bangunan gereja tetap belum diberikan oleh warga sekitar sebagai tempat pembinaan iman warga GKJ Bumi Indah.
Melihat kembali perjalanan sejarah GKJ Bumi Indah, pengalaman ini menarik untuk dikenang dan dijadikan pelajaran iman. Seperti cikal bakal gereja-gereja lain di Indonesia, GKJ Bumi Indah, ketika masih berstatus sebagai Pepanthan GKJ Tangerang, menghadapi berbagai hambatan dan rintangan, tetapi terus bertumbuh dengan mantap.
Ketika kebaktian keluarga pertama akan dilangsungkan di rumah Keluarga Stevanus Wasiman pada 5 September 1999, penolakan dari warga sekitar sempat muncul. Namun, berkat pendekatan dan dialog yang dilakukan, Ketua RT akhirnya memberikan izin. Pada saat itu, Pak Wasiman dan kawan-kawan sempat bingung karena jumlah jemaat yang menghadiri kebaktian terus bertambah, sementara rumahnya sudah tidak lagi memadai. Pertanyaannya, di mana mereka akan beribadah selanjutnya?
Tantangan semakin besar ketika Keluarga Wasiman harus menghadapi situasi baru dengan kelahiran anak kedua. Dengan ruang yang semakin terbatas, disepakati bahwa jemaat harus mencari ruko untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Sayangnya, dana yang tersedia belum mencukupi, sementara mencari ruko juga bukan hal mudah, karena banyak pemiliknya tidak jelas akibat masalah pengembang Perumahan Bumi Indah yang terjerat kasus BLBI setelah krisis moneter tahun 1998.
Ketika akhirnya berhasil mendapatkan kontrakan ruko di RE 10, kebahagiaan itu hanya berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, kontrak tidak dapat diperpanjang, dan jemaat kembali harus mencari tempat baru. Pada saat yang sama, subsidi dari gereja induk (GKJ Tangerang) terbatas, karena gereja induk juga memiliki kebutuhan lain, seperti proses pemanggilan pendeta pertama, yang akhirnya terpilih Pdt. Pramudianto.
Setelah menemukan ruko baru, jemaat Pepanthan Bumi Indah masih harus menghadapi gangguan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sebagian warga sekitar memprovokasi warga lainnya agar ruko tidak digunakan untuk beribadah. Akibat provokasi ini, muncul surat dari RT dan RW yang ditujukan kepada Polsek, Polres, dan Kecamatan, meminta agar jemaat segera mengosongkan ruko dalam jangka waktu tertentu.
Meskipun tantangan begitu berat, jemaat terus bersatu, berdoa, dan bekerja. Rahmat Tuhan tercurah, dan satu per satu hambatan berhasil diatasi. Jemaat tetap bersukacita dan semakin kompak dalam pelayanan.
Cobaan kembali datang saat Stevanus Wasiman, tokoh yang penuh semangat dan pengabdian, dipanggil kembali ke pangkuan Bapa di Surga, di tengah perjuangan jemaat untuk mewujudkan tempat ibadah permanen. Namun, semangat dan teladan yang diwariskan oleh Stevanus Wasiman terus hidup dalam diri jemaat. Mereka dengan tekun melanjutkan apa yang telah dirintisnya.
Pada Juni 2005, tercatat sedikitnya 70 orang beribadah setiap Minggu di Pepanthan Bumi Indah. Jemaat ini tidak hanya berasal dari suku Jawa, tetapi juga dari Nias, Batak, Tionghoa, Manado, Toraja, Ambon, dan Timor. Mereka bersekutu dan memuji Tuhan dengan penuh kebersamaan di GKJ Bumi Indah. Anak-anak yang dilayani melalui kegiatan sekolah Minggu pun semakin bertambah, sehingga dibagi menjadi tiga kelas: Sekolah Minggu Kelas Kecil, Sekolah Minggu Kelas Besar, dan Sekolah Minggu Praremaja.
Benih yang telah ditanam mulai tumbuh subur. Meski menghadapi banyak rintangan, GKJ Bumi Indah tetap bertumbuh perlahan tapi pasti. Jumlah jemaat dan simpatisan terus bertambah. Berkat pelayanan yang dilakukan Majelis Bumi Indah, satu per satu mereka menjadi warga jemaat GKJ Bumi Indah.
Dengan dasar pertumbuhan dan keyakinan inilah, jemaat GKJ Tangerang Pepanthan Bumi Indah bertekad untuk menjadi gereja yang dewasa dan mandiri.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Stevanus Wasiman memprakarsai perlunya persekutuan bagi orang-orang Kristen asal Jawa di Bumi Indah, mengingat jarak antara GKJ Tangerang (induk) dan Bumi Indah yang cukup jauh. Untuk mewujudkan kerinduan tersebut, Stevanus Wasiman mengajak dua rekannya di Bumi Indah, yaitu Suratno Yakobus dan Wahyu Agus Purwoto. Ketiga orang ini menjadi pelopor berdirinya GKJ Bumi Indah.
Setelah bersepakat membentuk persekutuan, mereka bertiga mulai melakukan pendekatan kepada orang-orang Kristen yang tinggal di kawasan Bumi Indah untuk bergabung. Bersama istrinya, Lilik Suwanti, Stevanus Wasiman setiap sore dengan sepeda motor (berboncengan) mengunjungi warga Kristen di perumahan Bumi Indah.
Pada awalnya, para pelopor ini tidak berniat mendirikan gereja. Tujuan utama mereka adalah menciptakan sebuah persekutuan yang dapat mewadahi jemaat Kristen di Bumi Indah dan sekitarnya, sehingga mereka dapat berkumpul, memperkuat iman, dan menjaga persekutuan mereka.
Setelah persekutuan doa pertama terlaksana dengan baik, langkah berikutnya adalah menyelenggarakan persekutuan doa secara rutin setiap hari Sabtu. Lokasi persekutuan doa bergiliran di rumah-rumah peserta, yang semakin mempererat hubungan antarjemaat.
Respons positif dari warga Kristen di kawasan Bumi Indah memberikan semangat baru bagi para pelopor, khususnya Stevanus Wasiman. Ia bersama istrinya, Lilik Suwanti (yang kini menjadi warga GKJ Tangerang Wilayah Timur), secara aktif mengunjungi rumah-rumah orang Kristen di Bumi Indah dan sekitarnya. Mereka mengundang dan mengajak warga untuk berpartisipasi dalam persekutuan yang mulai menunjukkan hasil yang positif.
Dukungan dan pelayanan yang diberikan oleh Stevanus dan istrinya, bersama dengan Totok dan Suratno Yakobus, berhasil menjangkau beberapa keluarga Kristen lainnya, seperti Keluarga Hariyono, Keluarga Dewi Petrus Siahaan, dan Keluarga Sugeng Sungkono. Awalnya, Keluarga Hariyono telah bergereja di tempat lain. Namun, melalui ketekunan dan semangat pantang menyerah dari Stevanus, Keluarga Hariyono akhirnya bergabung dalam persekutuan keluarga Bumi Indah.
Seiring waktu, semakin banyak warga Kristen asal Jawa di Bumi Indah yang bergabung. Persekutuan yang mulanya hanya berupa kebaktian doa keluarga perlahan-lahan berkembang menjadi "gereja" yang menyelenggarakan ibadah di sebuah ruko, dengan papan nama "GKJ Tangerang Pepanthan Bumi Indah" yang dipasang di depan ruko.
Siapa sangka, dari pelayanan sederhana yang dilakukan oleh para pelopor, persekutuan doa keluarga yang awalnya hanya diikuti belasan kepala keluarga berkembang menjadi Pos Pekabaran Injil, Pepanthan Bumi Indah, dan akhirnya bermetamorfosa menjadi GKJ Bumi Indah pada tahun 2018. Tuhan benar-benar luar biasa dan penuh kuasa.
WhatsApp us