GKJ Bumi Indah

Saat ‘Si Paling’ Menjadi ‘Bukan Apa-Apa’

Saat ‘Si Paling’ Menjadi ‘Bukan Apa-Apa’

9 Februari 2026 | AK

Take a good look, friends, at who you were when you got called into this life. I don t see many of the brightest and the best among you, not many influential, not many from high-society families. Isn’t it obvious that God deliberately chose men and women that the culture overlooks and exploits and abuses, chose these nobodies to expose the hollow pretensions of the somebodies ? That makes it quite clear that none of you can get by with blowing your own horn before God. Everything that we have right thinking and right living, a clean slate and a fresh start come from God by way of Jesus Christ. That’s why we have the saying, If you’re going to blow a horn, blow a trumpet for God.

1 Corinthians 1:26-31 MSG

From https://www.bible.com/bible/ 97/ CO.129-31.MSG

1:26 Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. 1:27 Tetapi apa yang bodoh d bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, 1:28 dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, f dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti , 1:29 supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. 1:30 Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita . Ia membenarkan i dan menguduskan dan menebus kita. 1:31 Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."

 Kembali mengingat bahwa Allah banyak menolong saya dalam pekerjaan, perkuliahan, serta kehidupan. Ada suatu masa saya berada di tahap ‘superior’ menjadi ‘si paling ambis’, ‘si paling geoteknik’, dan gelar-gelar ego lainnya. Rasa bangga itu perlahan berubah menjadi kesombongan, hingga akhirnya sebuah kejadian hebat menguji dan menghancurkan harga diri tersebut. Saya belajar satu hal: kelemahan orang sombong adalah egonya sendiri. Ia tidak akan tahan menanggung malu saat terbukti salah atau ceroboh. Kesombongan saya diruntuhkan Allah seperti Menara Babel; hancur, hingga ego saya tak lagi punya bahasa yang sama dengan kenyataan.

Hari ini, ujian itu datang lagi melalui sebuah situasi mendadak. Seorang rekan kerja harus melakukan pengujian fondasi di Batam esok hari, namun persiapannya sangat minim. Ia panik karena ada perlengkapan yang dianggap ‘hilang’. Saat saya diminta membantu ke kantor, di tengah perjalanan saya merenung dan berdoa. Saya yakin alat itu ada, tapi keraguan tetap muncul. Dalam hati, saya hanya menyanyikan lagu, “Dalam nama Yesus, ada kemenangan…” Ketika saya sampai di kantor, saya membongkar semua tempat perlengkapan dan singkat cerita saya menemukan perlengkapan yang berjumlah pcs itu, namun masalah tidak berhenti disitu. Dia berkata bahwa ia tidak punya flashdisk untuk dibawa, sehingga ia mencari keluar namun tetap tidak menemukan dan akhirnya makin panik. Saya putar otak, bagaimana caranya agar ada jalan keluar. Puji Tuhan saya ingat kalau saya pernah meminjam flashdisk atasan saya. Saya menyarankan rekan saya untuk whatsapp chat ke atasan saya untuk meminta izin apakah flashdisk tersebut dapat dipakai. Ia melakukan sesuai apa yang saya beritahu dan Puji Tuhan atasan saya mengizinkan untuk meminjamkan flashdisk tersebut.

Masalah baru muncul ketika sistem mendeteksi error: sensor tidak terbaca. Dalam pengujian fondasi ini, empat sensor bergantung sepenuhnya pada satu rangkaian kabel penghubung. Di tengah kepanikan rekan saya, saya mencoba tetap tenang dan mulai menganalisa. Kecurigaan saya jatuh pada kabel penghubung, bukan pada sensornya. Seperti sedang mencari sinyal pada antena TV tua, saya mencoba menggerak-gerakkan kabel tersebut perlahan. Dan benar saja, Puji Tuhan, sensor kembali aktif. Masalah yang terlihat besar itu ternyata hanya soal kabel sebuah pengingat bahwa hal kecil pun bisa menghentikan segalanya jika Tuhan tidak memberi kejernihan berpikir.

Itulah kehidupan, banyak yang terjadi dan tentu saja tidak sesuai yang direncakan–termasuk mungkin gaji kalian, nilai semester kalian, atau bahkan lingkungan hidup yang tidak ideal. Tapi kalian perlu tahu bahwa kalianlah pembeda disitu. Allah tidak memanggil ‘si paling’ untuk menjadi garam dan terang dunianya. Ia memanggil si pendiam untuk berbicara dan menyemangati orang banyak, Ia memanggil si kasar untuk melembutkan hari orang-orang, dan bahkan Ia lahir di kota mungil Betlehem. Teguhkanlah dan kuatkanlah hatimu, kamu adalah anak-anak kepunyaan Allah. Orang yang sombong adalah permulaan Ia berproses dengan Allah, sebab tidak ada kapak yang dapat memegahkan dirinya sendiri terhadap orang yang memakainya.

Solus Deus fundamentum vitae nostrae, et basis nostra

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article