25 Februari 2026 | AK |
’11Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. ‘
Yesaya 40:11 https://www.bible.com/bible/306/ISA.40.TB
’11Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; ‘
Yohanes 10:11 https://www.bible.com/bible/306/JHN.10.TB
Saya ingin menegaskan bahwa kita adalah domba Allah, sebab Ia adalah gembala yang baik. Saya adalah salah satu domba-Nya yang pernah hilang.
Kehidupan pribadi saya dipenuhi rasa ingin tahu yang tinggi serta keberanian yang sangat mentah. Hal ini memiliki efek samping, yaitu kurangnya kebijaksanaan dan timbulnya kesombongan. Empat tahun terakhir, kehidupan saya sebetulnya hanya seputar perkuliahan, tugas, kelompok yang unik, pelayanan, menjaga hubungan dengan keluarga dan pasangan. Uniknya, rasa ingin tahu dan keberanian tersebut membuat saya mencoba banyak hal dan menjadi amat sangat menonjol di mana pun saya berada—dari sini saja terlihat bagaimana saya mendeskripsikan diri dengan sangat “superior”.
Ternyata rasa ingin tahu yang tinggi bila tidak disertai kebijaksanaan akan menimbulkan “petualangan tanpa batas”. Terdengar tidak ada masalah, bukan? Namun ketika Anda memupuk rasa ingin tahu tersebut bahkan berbuah (bertindak), maka Anda baru saja memasuki petualangan palsu. Katakanlah Anda adalah orang yang belum mengerti “apa itu hidup benar”, sehingga menimbulkan pertanyaan “mengapa saya harus hidup benar?”. Rasa ingin tahu yang dipupuk dan berbuah, serta ditambah ketidaktahuan
- Bagi saya, judi itu merusak otak, layaknya kecanduan (mungkin) seperti narkoba dan pornografi. Menurut pengakuan orang yang sudah lepas dari itu, ada sensasi “harapan” bahwa mereka akan kaya raya dan menang bila memberikan sejumlah uang. “Ah sedikit lagi ini, 20rb lagi kayaknya bisa nih dapet”, atau “Wah kurang banyak ini kayaknya makanya gak dapet-dapet”. Alhasil? Motor dijual, laptop dijual, dan terlilit hutang pinjol karena pinjam uang untuk judi. Penjudi adalah salah satu orang yang keras kepala—pada umumnya manusia memang keras kepala, artinya kepada penjudi kita harus lebih keras lagi. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa hal itu merugikan mereka dan mereka tidak akan menang. Itu bukanlah sesuatu yang transaksional. Hal yang menjadi pertanyaan saya: apakah mereka akan menodong Allah? “Engkau di mana, aku susah seperti ini tapi Tidak Engkau tolong?” atau malah “Gak mau ketemu Tuhan, gua malu karena sudah berdosa, biar gua selesaikan ini sendiri aja”. Lucu sekali, merasa diri sangat berdosa, padahal semua manusia di muka bumi ini sama berdosanya dengan dia.
- Bagi saya, pornografi juga merusak otak, mengaktifkan khayalan semu di mana kepuasan palsu tersebut ada. Kebebasan pribadi Allah berikan secara Cuma-Cuma kepada kita, namun sepertinya segala hal yang gratis cenderung membuat manusia take it for granted. Karena saya penulis laki-laki, maka saya akan bilang seperti ini: freewill yang Allah berikan itu seperti parang yang digunakan untuk memotong tanaman, namun malah digunakan secara salah untuk menyakiti orang lain—imajinasi manusia digunakan untuk mengobjektifikasi perempuan dengan cara apa pun agar laki-laki dapat merasakan kepuasan palsu. Bila tidak disertai kebijaksanaan, hal-hal seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, pergaulan bebas, dan degradasi moral sudah pasti terjadi. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah perubahan sikap atau transformasi diri yang utuh, meskipun bertahap.
- Terakhir, perokok. Ini jelas; hidupmu tanpa rokok rasanya bosan atau kurang, seperti Gen Z atau Gen Alpha tanpa smartphone dan internet, no debat. Saya pernah membaca, “Orang bodoh tidak tahu dirinya bodoh tapi orang lain yang paling dirugikan karena kebodohannya”. Kira-kira begitu bila Anda merokok dekat dengan anak kecil, merokok di ruangan tertutup, merokok dekat ibu hamil, dan merokok dekat keluarga.kita pada masa kebodohan, mengakibatkan kita “mencicipi buah terlarang”. Nah, inilah puncaknya. Buah terlarang itu ya dilarang atas suatu maksud. Kita pakai contoh yang sangat kontras, seperti hitam dan putih:
Itu adalah gambaran kontras. Sebagai pembanding saya akan berikan contoh lain dalam skala yang berbeda:
- Orang yang sedikit gerak tapi makan banyak sudah pasti obesitas. No debat.
- Kolesterol datang bukan dari tongseng atau makanan bersantan saja. Ketahuilah bahwa kolesterol disumbang oleh minyak goreng, jadi kalau tidak makan tongseng pun tetap bisa kolesterol.
- Kecanduan gula itu nyata. Ditambah sedikit gerak, akan menimbulkan banyak penyakit, minimal obesitas
Lalu apa hubungannya antara hal di atas dengan ayat tersebut?
Allah adalah gembala, Dialah pemimpin, juga teladan. Hiduplah hidup dengan damai sejahtera, menaati firman-Nya, dekat dengan Dia supaya kamu bisa menjadi serupa dengan Dia lagi. Sudah dijelaskan juga bahwa segala sesuatu diperbolehkan namun tidak semuanya berguna. Juga sudah dijelaskan bahwa tubuhmu adalah Bait Roh Kudus, kamu telah dibeli dan sudah lunas, jadi muliakanlah Allah dengan tubuhmu. Ada tertulis juga semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Juga ada tertulis, setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Bila itu dibuahi melahirkan dosa dan dosa yang sudah matang melahirkan maut. Semua itu freewill, kamu bisa memilih hidup untuk dosa atau untuk Allah.
Jujur, saya juga masih belajar. Saya membagikan ini supaya pembaca tidak perlu menghabiskan waktu 4 tahun dalam hidupnya untuk mengerti konsekuensi dari masa kebodohan. Layaknya seorang bapa yang “dirugikan” ketika anaknya yang bungsu menghabiskan hartanya di “dunia lain”, orang-orang disekitar saya—seperti keluarga, pasangan, dan rekan-rekan—juga dirugikan atas tindakan saya pada masa kebodohan saya.
Kiranya kamu tetap mendengar Allah, sebab saya tahu Allah selalu membimbing.
Solus Deus fundamentum vitae nostrae, et basis nostra

