23 Maret 2026 | AK
‘sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. ‘
1 Yohanes 5:4
Selamat pagi, siang, sore, atau malam semuanya. Saya ingin mencoba lagi untuk menuliskan renungan yang sempat terhenti cukup lama. Ternyata, menjaga konsistensi itu memang tantangan besar. Seringkali, rasa jenuh dari pekerjaan membuat saya justru terjebak dalam ‘kenyamanan palsu’—scrolling media sosial seharian yang bukannya menyegarkan, malah bikin kita makin tidak connect dengan realita dan orang di sekitar.
Bagi saya yang sering punya ‘kepala berisik’, menulis itu bukan cuma hobi, tapi sudah jadi kewajiban. Menulis adalah terapi paling efektif untuk mengeluarkan semua pikiran buruk, stres, dan overthinking. Rasanya jauh lebih lega menumpahkan pergumulan di sini daripada harus memendamnya sambil terus menatap layar HP, yang jujur saja, malah sering bikin gampang marah dan mood berantakan—persis seperti orang yang kecanduan nikotin atau hal-hal berat lainnya.
Ketenangan dari menulis inilah yang membantu saya melihat pekerjaan saya sekarang dengan perspektif berbeda. Saya masih mengimani bahwa saya ditempatkan di perusahaan ini untuk waktu yang lama agar bisa belajar banyak hal, sambil tetap berada di ‘zona aman’ yang memungkinkan saya tetap bisa melayani di gereja.
Tapi jujur, praktiknya tidak selalu mudah. Ada kalanya kesabaran saya benar-benar diuji, terutama saat menghadapi dinamika kantor atau karakter bos yang unik. Di saat-saat kehilangan kesabaran seperti itu, saya mencoba mengingat kembali bahwa Allah itu menyertai saya—sama seperti Dia menyertai Yosua, atau bagaimana Dia menuntun Yakub. Iman bagi saya adalah percaya bahwa Allah akan mencukupkan apa pun yang saya butuhkan, tepat di tempat saya berpijak sekarang.
Meskipun kadang saya bingung mau minta apa karena saking banyaknya beban, atau bahkan saking lelahnya sampai tidak sanggup menyebutkan kebutuhan satu per satu, saya bersyukur Allah lebih tahu segalanya. Segala keinginan dan permohonan itu saya serahkan kembali kepada-Nya. Dengan begitu, saya bisa melangkah ke depan tanpa harus merasa skeptis dengan apa yang saya kerjakan sekarang, dan tidak perlu lagi malu atas kesalahan di masa lalu.
Itulah iman: percaya bahwa di tengah keributan dunia dan pekerjaan, penyertaan-Nya itu cukup.
Solus Deus fundamentum vitae nostrae, et basis nostra

