(Yesaya 9:1-4; Mazmur 27:1, 4-9; 1 Korintus 1:10-18; Matius 4:12-23)
Hari ini kita merenungkan panggilan Allah yang indah: dipanggil bersama-sama. Bacaan dari Yesaya 9:1-4 mengingatkan kita bahwa bangsa yang berjalan dalam kegelapan telah melihat terang yang besar. Allah tidak membiarkan umat-Nya berjalan sendirian, melainkan menghadirkan terang yang menyinari jalan mereka. Terang itu bukan hanya untuk satu orang, tetapi untuk seluruh bangsa. Inilah tanda bahwa panggilan Allah selalu bersifat komunal, mengikat kita sebagai keluarga umat-Nya.
Mazmur 27 meneguhkan bahwa Tuhan adalah terang dan keselamatan kita. Pemazmur merindukan satu hal: tinggal di rumah Tuhan seumur hidupnya. Kerinduan ini bukan hanya kerinduan pribadi, melainkan kerinduan bersama umat untuk berdiam dalam hadirat Allah. Ketika kita berkumpul sebagai jemaat, kita merasakan sukacita yang sama: Allah hadir, menerangi, dan meneguhkan kita.
Dalam bacaan 1 Korintus 1:10-18, Paulus menegur jemaat Korintus yang terpecah karena mengangkat nama pemimpin tertentu. Ada yang berkata “aku dari Paulus”, “aku dari Apolos”, “aku dari Kefas”. Paulus mengingatkan bahwa kita semua dipanggil bukan oleh manusia, melainkan oleh Kristus yang disalibkan. Kesatuan jemaat adalah kesaksian nyata bahwa panggilan Allah tidak memecah, melainkan menyatukan. Kita dipanggil bersama-sama untuk hidup dalam satu iman, satu pengharapan, dan satu kasih.
Bacaan Injil dari Matius 4:12-23 menampilkan Yesus yang memanggil murid-murid pertama. Ia berkata: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Panggilan ini bukan hanya kepada Simon dan Andreas, atau Yakobus dan Yohanes, tetapi kepada kita semua. Menariknya, Yesus tidak memanggil mereka satu per satu untuk berjalan sendiri, melainkan memanggil mereka berdua, bahkan berempat, untuk bersama-sama mengikuti Dia. Panggilan Kristus selalu mengikat kita dalam kebersamaan, agar kita saling menguatkan dalam perjalanan iman.
Saudara-saudari, tema Dipanggil bersama-sama mengingatkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan soliter. Kita dipanggil sebagai jemaat, sebagai keluarga, untuk berjalan bersama dalam terang Kristus. Dalam kebersamaan, kita belajar saling menanggung beban, saling menghibur, dan saling meneguhkan. Kita dipanggil bukan hanya untuk menerima keselamatan, tetapi juga untuk menjadi saksi kasih Allah bagi dunia.
Mari kita renungkan: apakah kita sudah hidup sebagai jemaat yang bersatu? Apakah kita masih terpecah oleh perbedaan, ataukah kita sungguh merasakan panggilan Kristus yang menyatukan? Ingatlah, kita dipanggil bukan oleh nama pendeta, bukan oleh nama komisi, melainkan oleh Kristus sendiri. Dialah yang menjadi pusat iman kita.
Kiranya renungan ini meneguhkan kita untuk terus berjalan bersama sebagai jemaat GKJ Bumi Indah. Mari kita sambut panggilan Kristus dengan hati yang penuh sukacita, saling mendukung, dan saling mengasihi. Sebab Allah hadir di tengah kita, menyelamatkan keluarga, dan menuntun jemaat-Nya dalam terang yang besar.
Tuhan memberkati perjalanan iman kita bersama.

