GKJ Bumi Indah

Menolak Berhala, Memilih Setia

Menolak Berhala, Memilih Setia

Keluaran 32:1–14; Mazmur 106:1–6, 19–23; Filipi 4:1–9; Matius 22:1–14

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,

Kita hidup di tengah dunia yang menawarkan banyak hal untuk dikejar: kekayaan, jabatan, kesuksesan, kenyamanan, dan pengakuan. Semua itu tidak selalu buruk. Namun, ketika hal-hal tersebut menjadi lebih penting daripada Tuhan, kita perlu waspada. Tanpa disadari, sesuatu yang kita miliki atau kita inginkan dapat berubah menjadi berhala yang menguasai hati kita.

Melalui bacaan Alkitab hari ini, kita diajak untuk menolak berhala dan memilih setia kepada Tuhan dalam seluruh kehidupan kita.

Dalam Keluaran 32:1–14, bangsa Israel kehilangan kesabaran ketika Musa belum turun dari Gunung Sinai. Mereka meminta Harun membuatkan anak lembu emas untuk disembah. Padahal, mereka telah menyaksikan kuasa Tuhan yang membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Namun, ketika menghadapi ketidakpastian, mereka justru berpaling kepada berhala yang dapat mereka lihat dan kendalikan.

Bukankah hal serupa dapat terjadi dalam hidup kita? Ketika doa belum terjawab, kita mulai meragukan Tuhan. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, kita tergoda mencari jalan pintas yang tidak benar. Ketika masa depan terasa tidak pasti, kita lebih mengandalkan kekuatan sendiri daripada mencari kehendak Tuhan.

Berhala zaman sekarang tidak selalu berbentuk patung. Uang dapat menjadi berhala ketika kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Jabatan dapat menjadi berhala ketika kita mengorbankan kejujuran demi mempertahankannya. Bahkan pelayanan gereja dapat menjadi berhala ketika kita melakukannya hanya demi pujian dan pengakuan.

Mazmur 106 mengingatkan kita agar tidak melupakan kebaikan Tuhan. Bangsa Israel jatuh karena mereka melupakan perbuatan-perbuatan Tuhan dan menggantikan kemuliaan-Nya dengan patung anak lembu. Karena itu, kesetiaan perlu dibangun dengan terus mengingat pertolongan, pemeliharaan, dan kasih setia Tuhan.

Ketika menghadapi kesulitan, janganlah kita segera berpaling kepada sesuatu yang menjanjikan kepastian sesaat. Sebaliknya, belajarlah menantikan Tuhan dengan iman. Jika kita menyadari bahwa hati kita telah menyimpang, datanglah kepada-Nya dengan pertobatan. Tuhan menghendaki kita kembali kepada-Nya dan mengalami pembaruan hidup.

Dalam Filipi 4:1–9, Rasul Paulus mengajarkan agar kita berdiri teguh dalam Tuhan, hidup dalam kerukunan, bersukacita, berdoa, dan memikirkan segala sesuatu yang benar, mulia, adil, serta patut dipuji. Nasihat ini menunjukkan bahwa kesetiaan bukan sekadar perkataan, melainkan sikap hidup yang nyata.

Kita memilih setia ketika tetap jujur meskipun ada kesempatan untuk berbuat curang, tetap mengampuni meskipun pernah disakiti, dan tetap melayani meskipun tidak mendapat penghargaan. Kita juga belajar menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan dan mensyukuri pemeliharaan-Nya.

Sementara itu, Matius 22:1–14 menggambarkan undangan perjamuan kawin yang disediakan seorang raja. Namun, orang-orang yang diundang justru menolak karena sibuk dengan urusan masing-masing. Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa kesibukan dan kepentingan pribadi dapat membuat kita mengabaikan panggilan Tuhan.

Kita mungkin rajin beribadah dan aktif melayani, tetapi apakah hati kita sungguh-sungguh menaati Tuhan? Menerima undangan-Nya berarti bersedia mengalami perubahan hidup, bukan hanya menikmati berkat-Nya. Anugerah Tuhan mengundang kita untuk hidup dalam kasih, kerendahan hati, pengampunan, dan kesetiaan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, marilah kita memeriksa hati kita. Apa yang selama ini paling kita andalkan? Apa yang paling kita takut kehilangan? Apakah ada sesuatu yang telah mengambil tempat Tuhan dalam hidup kita?

Menolak berhala berarti menempatkan Tuhan kembali sebagai pusat kehidupan. Memilih setia berarti tetap percaya dan menaati-Nya, sekalipun kita harus menunggu dan menghadapi kesulitan.

Kiranya kita tidak hanya mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi juga menunjukkan kesetiaan melalui keputusan dan tindakan sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian tentang kasih Tuhan bagi keluarga, gereja, dan masyarakat.

Amin.

Think

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article

Menolak Berhala, Memilih Setia

Keluaran 32:1–14; Mazmur 106:1–6, 19–23; Filipi 4:1–9; Matius 22:1–14 Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di tengah dunia yang menawarkan banyak hal untuk dikejar: kekayaan,

Read More →