GKJ Bumi Indah

Mengakarkan Sabda, Membuahkan Kasih

Mengakarkan Sabda, Membuahkan Kasih

Keluaran 20:1-4, 7-9, 12-20; Mazmur 19; Filipi 3:4b-14; Matius 21:33-46

Tema kita hari ini adalah “Mengakarkan Sabda, Membuahkan Kasih.” Tema ini mengajak kita melihat bahwa Sabda Tuhan bukan sekadar untuk didengar, dihafalkan, atau diketahui. Sabda Tuhan harus berakar dalam hati dan kehidupan kita. Ketika Sabda itu sungguh berakar, buahnya seharusnya tampak dalam kasih, ketaatan, pengampunan, dan kehidupan yang semakin menyerupai Kristus.

Dalam bacaan pertama, kita mendengar Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada bangsa Israel. Perintah-perintah itu bukan sekadar kumpulan larangan. Allah terlebih dahulu menyatakan diri-Nya sebagai Dia yang telah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir. Artinya, ketaatan kepada Allah lahir dari relasi kasih dan rasa syukur karena telah menerima keselamatan.

Demikian pula dalam hidup kita. Kita menaati Sabda Tuhan bukan karena takut semata-mata akan hukuman, tetapi karena menyadari bahwa Tuhan terlebih dahulu mengasihi dan menyelamatkan kita. Sabda-Nya menjadi pedoman agar kebebasan yang kita terima tidak digunakan untuk menyakiti orang lain, melainkan untuk melakukan kebaikan.

Mazmur 19 mengatakan bahwa Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa. Sabda Tuhan bukan sesuatu yang membebani kehidupan. Justru Sabda-Nya menuntun kita ketika kita bingung, menguatkan ketika kita lemah, dan mengingatkan ketika kita mulai menjauh dari jalan Tuhan.

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus memberikan teladan yang sangat kuat. Ia memiliki banyak alasan untuk berbangga atas dirinya: keturunan, pendidikan, ketaatan terhadap hukum, dan berbagai pencapaian keagamaannya. Namun setelah mengenal Kristus, semua itu dianggapnya tidak sebanding dengan nilai pengenalan akan Kristus.

Paulus menunjukkan bahwa iman bukan tentang seberapa banyak kita dapat membanggakan diri sebagai orang beragama. Yang terutama adalah apakah hidup kita semakin dekat kepada Kristus. Sabda yang berakar dalam diri kita akan mengubah cara kita berpikir, berbicara, dan memperlakukan sesama.

Dalam Injil, Yesus menceritakan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Pemilik kebun telah memberikan kebun itu kepada para penggarap, tetapi ketika waktunya tiba untuk menerima hasil, mereka justru menolak dan bahkan membunuh para utusan pemilik kebun.

Perumpamaan ini menjadi gambaran tentang manusia yang menerima begitu banyak anugerah dari Tuhan, tetapi lupa bahwa semuanya adalah titipan. Tuhan mengharapkan buah dari kehidupan kita.

Pertanyaannya bagi kita adalah: buah apa yang sedang kita hasilkan?

Apakah Sabda Tuhan yang kita dengarkan setiap minggu sudah menghasilkan kasih dalam keluarga? Apakah menghasilkan kesabaran ketika menghadapi orang yang berbeda dengan kita? Apakah menghasilkan pengampunan ketika kita disakiti? Apakah menghasilkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan?

Jangan sampai kita rajin mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi kehidupan kita tidak menghasilkan buah kasih.

Saudara-saudari,

Mengakarkan Sabda berarti memberikan tempat bagi Tuhan untuk bekerja dalam hati kita. Membuahkan kasih berarti menjadikan Sabda itu nyata melalui tindakan sederhana setiap hari: berkata benar, menghormati orang tua, menjaga kesetiaan, mengampuni, menolong, tidak merendahkan orang lain, dan menggunakan apa yang kita miliki dengan bertanggung jawab.

Marilah kita tidak hanya menjadi pendengar Sabda, tetapi menjadi pelaku Sabda. Biarlah hati kita menjadi tanah yang baik, tempat Sabda Tuhan berakar, bertumbuh, dan akhirnya menghasilkan buah yang dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Semoga melalui kehidupan kita, orang lain dapat melihat bahwa Sabda Tuhan sungguh hidup dan menghasilkan kasih.

Amin.

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article

Menolak Berhala, Memilih Setia

Keluaran 32:1–14; Mazmur 106:1–6, 19–23; Filipi 4:1–9; Matius 22:1–14 Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Kita hidup di tengah dunia yang menawarkan banyak hal untuk dikejar: kekayaan,

Read More →