30 Agustus 2026
TUHAN, Engkau tahu; ingatlah akan daku dan perhatikanlah aku, dan balaskanlah dendamku kepada orang-orang yang mengejar aku…” (Yeremia 15:15). Jeritan hati Nabi Yeremia ini adalah potret kejujuran seorang manusia yang lelah. Yeremia berada di titik jenuh ketika panggilannya sebagai nabi mendatangkan penolakan, cemoohan, dan penderitaan sosial. Ia tadinya memiliki ruang aman dalam keheningan hidupnya, tetapi firman Allah membawanya ke garis depan pertempuran rohani, menghadapi bangsanya sendiri yang keras kepala. Yeremia ingin mundur, namun panggilan itu terlalu besar untuk diabaikan.
Panggilan iman Kristen sering kali menuntut kita untuk keluar dari batas-batas kenyamanan pribadi. Perikop Roma 12:9-21 memberikan cetak biru yang radikal tentang bagaimana wujud pelayanan itu seharusnya dijalankan di tengah realitas sosial. Kasih yang dianjurkan oleh Rasul Paulus bukanlah kasih yang pasif atau sekadar retorika manis di dalam tembok tempat ibadah. Paulus menyerukan agar kasih itu “jangan fana,” membenci kejahatan, dan melekatkan diri pada yang baik. Melayani bangsa dan sesama menuntut kita untuk menanggalkan ego, menolak sikap acuh tak acuh, dan berani bersentuhan langsung dengan pergumulan nyata masyarakat.
Puncak dari panggilan keluar dari zona nyaman ini ditegaskan dalam Injil Matius 16:21-28. Ketika Yesus secara terbuka berbicara tentang penderitaan, penolakan, dan salib yang harus Ia hadapi di Yerusalem, Petrus langsung merespons dengan protes. Sebagai manusia, Petrus menginginkan Yesus tetap berada dalam zona nyaman sebagai pemimpin politis yang menang tanpa melalui penderitaan fisik. Namun, teguran Yesus sangat keras: “Enyahlah Iblis. Engkau bukan suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Yesus menegaskan bahwa mengikut Dia berarti memikul salib dan menyangkal diri.
Menemukan kenyamanan pribadi adalah insting alami manusia. Kita senang berada di lingkungan yang sepemikiran, menikmati stabilitas ekonomi, dan menghindari konflik sosial. Namun, bangsa ini—dengan segala kompleksitas persoalan moral, ketidakadilan sosial, dan kerapuhan relasi antarsesama—membutuhkan kehadiran orang-orang yang berani melangkah keluar dari zona aman tersebut. Melayani bangsa tidak selalu harus di panggung besar atau jabatan politik yang tinggi. Keputusan seorang profesional untuk tetap jujur di tengah sistem yang korup, langkah seorang anak muda yang merelakan waktunya untuk mengajar anak-anak kurang mampu, atau keberanian seseorang untuk merajut kembali persaudaraan di tengah polarisasi sosial adalah bentuk nyata dari penyangkalan diri.
Yesus mengingatkan bahwa barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Dia, ia akan mendapatinya. Zona nyaman sering kali menjadi kuburan bagi potensi rohani dan panggilan kemanusiaan kita. Ketika kita terlalu sibuk melindungi kenyamanan diri sendiri, kita menjadi tuli terhadap jeritan sesama yang membutuhkan keadilan, belas kasih, dan kebenaran. Yeremia pada akhirnya menemukan kekuatan bukan karena situasinya membaik, tetapi karena ia menyadari bahwa Allah menyertainya di garis depan. Petrus pun bertransformasi menjadi rasul yang berani mati bagi misinya setelah ia memahami makna sejati dari salib Kristus.
Mari merenungkan kembali di mana posisi kita hari ini. Apakah kenyamanan hidup, keamanan finansial, atau ketakutan akan risiko masih menjadi prioritas utama yang membatasi keterlibatan kita bagi sesama dan bangsa? Panggilan Tuhan hari ini jelas: tinggalkan zona nyaman, kenakan kasih yang tidak pura-pura, dan beranilah memikul salib pelayanan di tengah dunia yang membutuhkan pemulihan. Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup aman, melainkan untuk hidup setia dan berdampak nyata.
