Renungan Minggua
Bacaan I: Yesaya 51:1–6
Bacaan II: Roma 12:1–8
Bacaan Injil: Matius 16:13–20
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Setiap hari kita berhadapan dengan keputusan. Ada keputusan sederhana, tetapi ada juga keputusan yang menentukan arah hidup kita, keluarga kita, bahkan kehidupan bersama. Tidak jarang kita tahu apa yang benar, tetapi kita ragu untuk melakukannya. Kita takut berbeda dari orang lain, takut kehilangan kenyamanan, takut ditolak, atau takut menanggung akibat dari pilihan kita. Karena itu, tema renungan kita hari ini menjadi penting: “Berani Mengambil Keputusan yang Benar.”
Dalam Yesaya 51, Tuhan mengingatkan umat-Nya untuk melihat kembali asal-usul mereka. Mereka diminta mengingat Abraham dan Sara, bagaimana dari sesuatu yang tampaknya kecil Tuhan membentuk suatu bangsa. Pesannya jelas: jangan takut mengambil langkah karena keadaan yang terlihat kecil atau sulit. Percayalah kepada Tuhan yang sanggup mengubah keadaan. Ketika kita mengambil keputusan yang benar, kita tidak selalu melihat hasilnya dengan segera. Namun, kita percaya bahwa Tuhan bekerja melalui ketaatan kita.
Paulus dalam Roma 12 memberikan dasar yang sangat kuat bagi kehidupan orang percaya. Ia mengajak kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Artinya, keputusan hidup kita tidak boleh hanya didasarkan pada keinginan pribadi atau tekanan lingkungan. Kita dipanggil untuk mengalami pembaruan budi sehingga mampu membedakan kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna.
Di sinilah keberanian menjadi penting. Berani mengambil keputusan yang benar bukan berarti kita tidak mempunyai rasa takut. Keberanian justru berarti tetap memilih yang benar meskipun ada ketakutan. Seorang Kristen tidak dipanggil untuk selalu memilih jalan yang paling mudah, tetapi jalan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Dalam Injil Matius 16, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Pertanyaan itu akhirnya dijawab Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Petrus mengambil keputusan untuk menyatakan imannya dengan jelas. Ia tidak sekadar mengikuti pendapat orang banyak. Ia berani menyatakan siapa Yesus menurut pengenalannya sendiri.
Pertanyaan Yesus kepada Petrus juga merupakan pertanyaan bagi kita: “Siapakah Yesus bagi kita?” Jawaban atas pertanyaan itu seharusnya memengaruhi keputusan-keputusan kita. Jika Yesus sungguh Tuhan dan Juruselamat kita, maka pilihan kita dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, penggunaan harta, perkataan, maupun hubungan dengan sesama harus mencerminkan iman kepada-Nya.
Dalam konteks Bulan Kebangsaan GKJ 2026, keberanian mengambil keputusan yang benar juga berarti berani menghadirkan damai sejahtera di tengah kebhinnekaan. Kita hidup bersama orang-orang yang berbeda latar belakang, budaya, kebiasaan, dan pandangan. Kita dapat memilih untuk membangun tembok atau membangun jembatan. Kita dapat memilih untuk memperbesar perbedaan atau menghadirkan kasih. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memilih jalan yang menghadirkan kebaikan, keadilan, persaudaraan, dan damai sejahtera.
Paulus juga mengingatkan bahwa kita memiliki karunia yang berbeda-beda. Karena itu, keputusan yang benar bukan berarti semua orang harus melakukan hal yang sama. Setiap orang memiliki tempat dan tanggung jawabnya masing-masing. Yang penting adalah bagaimana karunia tersebut digunakan untuk membangun tubuh Kristus dan menjadi berkat bagi sesama.
Saudara-saudara, mungkin hari ini ada keputusan yang sedang kita hadapi. Jangan hanya bertanya, “Mana yang paling menguntungkan saya?” Mari bertanya, “Mana yang benar di hadapan Tuhan? Mana yang membawa damai? Mana yang membangun sesama? Mana yang sesuai dengan kehendak Allah?”
Marilah kita belajar dari Abraham yang percaya, Paulus yang mengajak hidup dalam pembaruan budi, dan Petrus yang berani menyatakan imannya. Kiranya kita menjadi pribadi-pribadi yang tidak takut mengambil keputusan yang benar, sekalipun keputusan itu tidak selalu mudah.
Berani memilih yang benar. Berani hidup dalam kasih. Berani menghadirkan damai sejahtera. Sebab ketika kita berjalan dalam kehendak Tuhan, kita tidak berjalan sendirian. Tuhan menyertai dan memakai keputusan kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang.
Amin.

