GKJ Bumi Indah

“Kristus Sumber Hikmat Kehidupan”

“Kristus Sumber Hikmat Kehidupan”

(Markus 10:45 & Amsal 22:3)

Ada sebuah cerita tentang seorang guru yang memiliki kemampuan luar biasa. Ia mempunyai mantra yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang orang yang telah mati. Murid-muridnya berkali-kali meminta agar mantra itu diajarkan kepada mereka. Namun setiap kali mereka meminta, sang guru selalu menjawab, “Belum sekarang. Kalian masih perlu belajar dan bertumbuh. Kelak, pada waktunya, mantra ini akan kuberikan kepada kalian.”

Karena terus didesak, akhirnya sang guru mengajarkan mantra itu. Dengan penuh semangat para murid segera meninggalkan gurunya. Di tengah perjalanan mereka menemukan tulang-belulang yang berserakan. Tanpa berpikir panjang mereka mencoba mantra tersebut. Mantra itu benar-benar bekerja. Tulang-belulang mulai bergerak, perlahan ditumbuhi daging, lalu hidup kembali. Namun yang mereka bangkitkan ternyata seekor serigala. Serigala itu langsung menerkam mereka hingga mereka mati. Mereka memang telah memiliki kemampuan, tetapi belum memiliki kebijaksanaan untuk menggunakannya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kepandaian dan kekuasaan belum tentu berjalan seiring dengan kebijaksanaan. Pengetahuan dapat dipelajari, kemampuan dapat dilatih, dan wewenang dapat diberikan. Namun kebijaksanaan tidak muncul begitu saja. Itulah yang belum dimiliki oleh murid-murid tadi. Mereka memang sudah menguasai mantra, tetapi mereka belum memiliki kedewasaan untuk mempertimbangkan akibat dari tindakan mereka. Mereka bertindak tergesa-gesa karena merasa sudah mampu, padahal mereka belum siap menggunakan kemampuan yang dimilikinya.

Lalu, dari manakah kebijaksanaan itu bertumbuh? Salah satunya melalui pengalaman hidup. Namun pengalaman yang dimaksud bukan sekadar banyaknya peristiwa yang kita alami atau panjangnya waktu yang telah kita jalani. Pengalaman yang sesungguhnya adalah ketika kita bersedia belajar dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Pengalaman mengajar kita untuk mengakui kesalahan, memperbaiki langkah, dan mengambil keputusan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya. Tanpa proses belajar seperti itu, seseorang mungkin sudah mengalami banyak hal, tetapi belum tentu menjadi semakin bijaksana.

Pakar pendidikan John Dewey pernah mengatakan bahwa nilai sebuah pengalaman ditentukan oleh pengaruhnya terhadap pengalaman-pengalaman berikutnya. Artinya, sebuah pengalaman baru benar-benar bermakna apabila pengalaman itu membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Jika setelah gagal kita menjadi lebih berhati-hati, berarti kegagalan itu telah mengajar kita. Jika setelah berhasil kita menjadi lebih rendah hati, berarti keberhasilan itu telah mendewasakan kita. Sebaliknya, apabila kita terus mengulangi kesalahan yang sama, sesungguhnya kita belum belajar dari pengalaman hidup kita.

Kalau demikian, seperti apakah hidup yang sungguh belajar dari setiap pengalaman itu? Alkitab menunjukkan teladan yang paling sempurna di dalam diri Tuhan Yesus. Seluruh perjalanan hidup-Nya dijalani dalam ketaatan kepada kehendak Bapa. Tidak ada satu pun peristiwa yang dijalani-Nya dengan sia-sia, sebab setiap langkah hidup-Nya selalu diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan Allah. Itulah sebabnya Markus 10:45 berkata, “Anak 3 Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Ayat ini memperlihatkan bahwa Yesus tidak hidup mengikuti keinginan sesaat ataupun mengejar kepentingan diri sendiri. Seluruh hidup-Nya diarahkan untuk melakukan kehendak Bapa dan menghadirkan keselamatan bagi banyak orang. Karena tujuan hidup-Nya begitu jelas, setiap keputusan yang diambil-Nya pun dilandasi kasih, ketaatan, dan hikmat.

Hidup yang memiliki tujuan akan menolong seseorang mengambil keputusan dengan bijaksana. Orang yang mengetahui untuk apa ia hidup tidak mudah terbawa emosi, tergesagesa, atau dikuasai ambisi sesaat. Ia belajar berhenti sejenak, mempertimbangkan keadaan, lalu menentukan langkah yang benar. Inilah yang diajarkan dalam Amsal 22:3, “Orang bijak melihat malapetaka lalu bersembunyi, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus lalu kena celaka.” Firman Tuhan ini ingin mengajarkan kita untuk memiliki kepekaan dalam melihat keadaan, kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan diri, dan hikmat untuk memilih jalan yang benar sebelum semuanya terlambat

Saudara-saudara, firman Tuhan ini menjadi sangat relevan ketika kita mempersiapkan diri menyambut Perjamuan Kudus. Persiapan itu bukan pertama-tama soal hadir dalam ibadah atau mengikuti liturgi dengan baik. Persiapan yang terutama adalah mempersiapkan hati di hadapan Tuhan. Kita diajak membawa seluruh perjalanan dan pengalaman hidup kita ke hadapan-Nya. Sukacita yang pernah kita alami, keberhasilan yang pernah kita capai, kegagalan yang pernah kita rasakan, bahkan dosa dan penyesalan yang masih kita simpan, semuanya kita bawa kepada Tuhan. Bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk diserahkan kepada kasih karunia-Nya.

Karena itu, menjelang Perjamuan Kudus marilah kita bertanya kepada diri sendiri: pelajaran apa yang Tuhan sedang ajarkan melalui perjalanan hidup saya? Apakah saya menjadi pribadi yang lebih sabar setelah melewati berbagai persoalan? Apakah keberhasilan membuat saya semakin rendah hati? Apakah kegagalan membuat saya semakin bergantung kepada Tuhan? Ataukah saya masih seperti murid-murid dalam cerita tadi, merasa sudah mampu, tetapi bertindak tanpa hikmat dan tanpa pertimbangan yang matang?

Ketika kita menerima roti dan anggur, kita mengingat Kristus yang telah menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Pada saat yang sama, kita juga diingatkan bahwa kasih Kristus tidak hanya mengampuni masa lalu kita, tetapi juga membentuk hidup kita hari ini. Ia menghendaki agar setiap pengalaman yang kita jalani menjadi kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan kebijaksanaan. Kiranya melalui Perjamuan Kudus ini Tuhan memperbarui hati kita, sehingga kita semakin mampu belajar dari setiap pengalaman, semakin bijaksana dalam mengambil keputusan, dan semakin serupa dengan Kristus yang telah lebih dahulu mengasihi dan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Amin.

/md

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article