Roma 15:5, 13 | AK
[5]. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan a kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,
[13] Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahteradalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kuduskamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.
Roma 15:5, 13
Beberapa hari terakhir, saya terbangun dengan perasaan yang sangat berat. Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan, yang puncaknya membuat air mata jatuh begitu saja. Setelah mencoba merenung, saya menyadari bahwa ini adalah akumulasi dari rasa prihatin saya terhadap keadaan di sekitar.
Saya melihat ketidakadilan yang dialami teman-teman saya: ada yang bekerja keras sebagai site manager selama dua bulan tanpa gaji, ada pula yang terdampar di Sorong tanpa kepastian tunjangan hanya karena masalah efisiensi tiket. Di saat yang sama, saya sendiri sedang bergelut dengan tekanan dua lingkup pekerjaan berbeda yang menuntut fokus penuh. Rasanya seperti sebuah lelucon yang tidak lucu.
Dalam kondisi “kering” secara mental ini, saya mencari perlindungan dalam firman Tuhan melalui Roma 15:5 & 13. Dari ayat-ayat ini, saya menemukan dua kekuatan penting:
- Kekuatan untuk Tetap Bertahan (Ayat 5)
Tuhan digambarkan sebagai sumber ketabahan dan penghiburan. Ia rindu memberikan kita “sikap pikiran” yang sama seperti Kristus. Bagi saya, ini adalah panggilan untuk tetap menjaga kerukunan dan kasih di lingkungan kerja yang sulit sekalipun. Kasih itu inklusif—untuk mereka yang seiman maupun yang belum percaya. Tuhan memampukan kita untuk tidak menjadi pahit meski keadaan sedang tidak berpihak.
- Bukan Sekadar Cukup, Tapi Meluap (Ayat 13)
Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam imanmu, supaya oleh kuasa Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”
Hal yang paling menyentuh hati saya adalah kata “berlimpah-limpah”. Di saat dunia (dan perusahaan) mungkin terasa kikir dalam memberikan hak atau penghargaan, Allah justru menawarkan sesuatu yang tidak terbatas. Ia tidak berkata, “Semoga harapanmu cukup untuk hari ini.” Ia berkata, “Semoga kamu meluap dengan harapan.”
Tuhan tidak hanya ingin kita sekadar “survive” atau bertahan hidup. Lewat Roh Kudus, Ia ingin mengisi tangki jiwa kita yang kosong dengan sukacita dan damai sejahtera sampai tumpah keluar. Meskipun situasi di sekitar saya (dan teman-teman saya) masih penuh ketidakpastian, saya memilih untuk bersandar pada Sang Sumber yang tidak pernah kekurangan.

