1 Korintus 11:17-34 | MD
Jemaat yang dikasihi Tuhan, ketika kita ingin bertamu ke rumah seseorang, tentulah kita akan bersiap diri, bukan? Setidaknya, supaya bersih dan wangi kita akan mandi dan pakai baju yang layak untuk bertamu ke rumahnya. Begitu pula dalam mempersiapkan diri menuju perjamuan kudus. Sebelum kita datang dan menerima Perjamuan Kudus, kita diajak untuk terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan cara menata hati. Firman Tuhan yang kita baca hari ini adalah bagian dari surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Kota Korintus pada masa itu adalah kota besar, pusat perdagangan, dan pelabuhan penting di dunia Yunani-Romawi kuno. Penduduknya beragam, baik dari segi budaya, ekonomi, maupun latar belakang kehidupan. Di tengah kemajuan dan keberagaman itu, muncul pula berbagai persoalan, termasuk dalam kehidupan berjemaat.
Rasul Paulus menulis surat ini bukan tanpa alasan. Ia menerima laporan bahwa dalam pertemuan jemaat, termasuk saat perjamuan kudus, terjadi ketidaktertiban dan ketidakadilan. Pada masa itu perjamuan dilakukan tidak di tempat ibadah, melainkan di rumah-rumah. Perjamuan kudus dilakukan bersamaan dengan perjamuan makan yang lumrah dilaksanakan pada masa itu. Itulah sebabnya Alkitab kita menceritakan ada orang-orang yang kaya makan lebih dahulu bahkan sampai mabuk, sementara yang miskin tidak kebagian. Ini menunjukkan bahwa jemaat Korintus pada saat itu membawa pola hidup lama yang egois dan tidak peduli kepada sesama ke dalam kehidupan bergereja. Mereka mengedepankan kepuasan diri sendiri daripada orang laing. Atasn dasar laporan inilah Rasul Paulus menegur mereka dengan keras, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk meluruskan kembali makna Perjamuan Kudus. Maka melalui bagian ini, sekarang kita diajak untuk memahami bahwa Perjamuan Kudus bukan sekadar ritual, melainkan perjumpaan yang kudus dengan Tuhan dan sesama. Karena itu, kita perlu menata hati dengan sungguh-sungguh dengan merefleksikan tiga hal sebagai berikut:
Pertama, Perjamuan Kudus Bukanlah Perjamuan Murahan.
Paulus berkata dalam ayat 20: “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan Perjamuan Tuhan.” Sejatinya kalimat ini sangat keras. Secara lahiriah mereka tetap berkumpul dan melakukan perjamuan, tetapi Paulus berkata bahwa itu bukan lagi Perjamuan Tuhan. Mengapa? Karena hati mereka tidak benar. Mereka datang dengan sikap egois, tidak peduli pada yang lain, bahkan memecah belah jemaat.
Saudara-saudari, ini menjadi peringatan sekaligus ajakan agar kita dapat memaknai Perjamuan Kudus bukan hanya sekadar rutinitas gereja, melainkan sebuah anugerah dan cinta ilahi yang Allah berikan melalui Tubuh dan Darah-Nya. Jika kita datang tanpa kerendahan hati, tanpa pertobatan, tanpa kesungguhan, maka kita sedang merendahkan makna Perjamuan itu sendiri. Perjamuan Kudus adalah peringatan akan pengorbanan Kristus yang mahal. Karena itu, hati kita pun harus dipersiapkan dengan sungguh, bukan asal datang, ikut, dan pulang tanpa makna.
Kedua, Perjamuan Kudus Bukan Untuk Mengenyangkan Perut, Melainkan Menyegarkan Jiwa.
Paulus menegaskan dalam ayat 22
“Tidakkah kamu mempunyai rumah untuk makan dan minum?”.
Melalui kalimat ini, Paulus membedakan dengan jelas antara makan biasa dan Perjamuan Kudus Tuhan. Perjamuan Kudus bukanlah tempat untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Tujuannya bukan untuk kenyang secara fisik, tetapi untuk mengingat dan mengalami kembali kasih Kristus.
Dalam Perjamuan Kudus, kita menerima roti dan anggur sebagai tanda tubuh dan darah Kristus. Itu mungkin kecil secara ukuran, tetapi besar secara makna. Di sana kita diingatkan bahwa Kristus telah menyerahkan diri-Nya bagi kita. Di sana kita diteguhkan bahwa Ia hadir dan menyertai umat-Nya. Jiwa kita disegarkan, iman kita diteguhkan, dan harapan kita diperbarui. Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri kita: ketika kita datang ke Perjamuan Kudus, apa yang kita cari? Apakah sekadar menjalankan kewajiban dan rutinitas, atau sungguh rindu berjumpa dengan Tuhan? Hati yang tertata adalah hati yang datang dengan kerinduan akan kehadiran Kristus.
Ketiga, Perjamuan Kudus Mengingatkan Kita Untuk Hidup Bagi Sesama
Paulus berkata dalam ayat 33: “Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.” Ini bukan sekadar soal menunggu secara harfiah, tetapi tentang sikap hati yang peduli dan menghargai sesama. Perjamuan Kudus tidak hanya berbicara tentang hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga hubungan kita dengan orang lain. Kita adalah satu tubuh di dalam Kristus. Tidak mungkin kita datang ke meja Tuhan, tetapi mengabaikan saudara kita. Tidak mungkin kita menerima kasih Kristus, tetapi tidak membagikannya. Perjamuan Kudus seharusnya membentuk kita menjadi pribadi yang lebih peka, lebih peduli, dan lebih mengasihi.
Saudara-saudari, ketika kita menata hati untuk Perjamuan Kudus, kita diajak untuk memeriksa diri: apakah ada sikap egois dalam diri kita? Apakah ada relasi yang rusak yang perlu diperbaiki? Apakah kita sungguh hidup sebagai bagian dari tubuh Kristus? Mari pertanyaan-pertanyaan ini kita refleksikan secara pribadi, sehingga ketika kita menerima Perjamuan Kudus pada Jumat Agung mendatang, kita dapat terima perjamuan itu dengan hati yang tertata, yakni hati yang peduli akan sesama sekaligus merindu kepada kasih Tuhan di dalam setiap perjalanan kehidupan. Marilah kita semakin menyadari bahwa kita datang bukan untuk sebuah perjamuan yang murahan, melainkan perjamuan yang kudus. Datang bukan untuk mengenyangkan perut, tetapi untuk disegarkan jiwanya. Dan dari perjamuan itu, kita diutus untuk hidup bagi sesama. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mempersiapkan hati dengan benar, sehingga kita boleh mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus dengan layak di hadapan-Nya. Amin.

