GKJ Bumi Indah

Cinta Tanpa Kompromi, Iman Tanpa Polusi

Cinta Tanpa Kompromi, Iman Tanpa Polusi

17 Februari 2026 |AK – 2 Yohanes 1



Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. ‘

Sejauh yang saya tahu, kitab Yohanes ditulis oleh orang yang sama dengan kitab Wahyu. Dialah penatua gereja mula-mula, rasul Yohanes. Penatua itu seperti ‘senior’, ‘orang tua’, ‘tetua’ yang intinya sangat dihormati dalam lingkup gereja, inilah hal yang menarik untuk dibahas.

Memperhatikan orang kecil

Rasul Yohanes, penatua gereja, memperhatikan jemaat-jemaat gereja pada saat itu. Kalimat pembuka dalam suratnya bertuliskan ‘kepada ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar kukasihi’. Surat itu ditulis spesifik kepada kelompok ibu-ibu yang pada saat itu, perempuan bukanlah hal yang ‘penting’. Perempuan pada saat itu lebih sering dipandang sebagai sebuah ‘makhluk yang hidup’ atau bahkan ‘trofi kemenangan’. Ketika Yohanes menuliskan hal itu,

artinya ia memberikan perhatiannya kepada sekelompok orang yang dipandang kecil oleh masyarakat pada saat itu. Mungkin penulisan ‘Ibu’, ‘anak-anak’ dan ‘anak-anak yang lain’ adalah sebuah majas penulisan untuk gereja, jemaat, dan jemaat yang lain, namun hal ini tetap memberikan gambaran peran ibu (perempuan) dalam menjaga keluarganya

Memberikan semangat dan pengajaran

Kenapa orang kecil diperhatikan? Dituliskan bahwa ada sebuah ‘perintah’ yang sudah ada atau sudah diberitahukan sejak lama yaitu untuk saling mengasihi. ‘separuh anak-anak dari anak-anak mu hidup dalam kebenaran’, Yohanes menuliskan separuh, bagaimana yang lainnya? Apakah kita disingkirkan? Yohanes ingin menegaskan bahwa hidup kita tetap harus berlandaskan oleh

kasih itu sendiri (ayat 6). Artinya, Yohanes memberikan afirmasi bahwa hidup tetap harus mengasihi siapapun dan hiduplah dengan kasih itu–disisi lain, itu adalah perintahNya. Pun kalau ibu-ibu sudah melakukan kasih itu, Yohanes memberikan afirmasi bahwa itu hal yang benar untuk dilakukan.

Warning/rambu-rambu

Mulai dari ayat 7-15 merupakan sinyal untuk berjaga-jaga yang diberikan Yohanes kepada jemaat bahwa banyak penyesat yang tidak mengakui bahwa Yohanes kepada jemaat bahwa banyak penyesat yang tidak mengakui bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Penyesat itu tidak membawa ajaran Allah Sang Kasih. Tertulis bahwa jika seseorang datang membawa ajaran

ini janganlah ia kamu terima di dalam rumahmu dan jangan memberi salam kepadanya, cukup keras ya. Tapi poin pentingnya adalah bagaimana kita tetap menjaga iman kita kepada Allah.

Bukannya tadi dibilang untuk terus mengasihi, ketika ada ‘anak-anak’ yang sedang berjalan tidak selaras dengan kasih?

Setelah saya baca lebih lanjut, ternyata kasih dan kebenaran adalah Dua Sisi Mata Uang. Kasih dan kebenaran merupakah kesatuan yang absolut, bukan hanya saling melengkapi melainkan juga menyempurnakan.

  1. Kasih tanpa kebenaran akan menjadi kompromi dalam bertindak, hal itu akan mendangkalkan iman oleh sebab kita tidak memiliki batas kebenaran.
  2. Kebenaran tanpa kasih akan menjadi legalisme yang kaku. Kalau anda ingat bagaimana orang farisi menghakimi, hanya karena mereka tau sebuah kebenaran, mereka dapat bertindak ‘menghakimi secara legalistik’ oleh karena mereka merasa tahu kebenaran. Mengasihi seseorang yang berjalan tidak selaras dengan kasih berarti tetap menginginkan yang terbaik bagi mereka, yaitu kembali ke jalan kebenaran.

Kasih adalah menaati perintahNya. Jika seseorang mengajarkan sesuatu yang bertentangan seper ti di ayat 7, serta membiarkan ajaran tersebut masuk ke dalam komunitas, maka tindakan tersebut bukan merupakan kasih kepada yang terhilang. Menjaga ‘rambu-rambu’ adalah bentuk kasih untuk melindungi ‘anak-anak’ agar tidak tersesat.

Ada perbedaan nyata antara orang yang lemah dan penyesat yang aktif, disitulah bedanya. Orang lemah butuh kasih dari mereka yang kuat, oleh sebab itu Yohanes memberikan pengajaran bahwa untuk terus mengasihi orang lain dalam kebenaran tetapi penyesat merupakan ‘racun’ ataupun ‘virus’ yang harus ditolak mentah-mentah. Menolak mereka merupakan tindakan preventif untuk menjaga komunitas.

Ingat, yang kuat menanggung yang lemah. Orang lemah bukanlah penyesat. Hanya Allah yang dapat mengganti hati seorang penyesat, asalkan ia percaya kepada Kristus.

Solus Deus fundamentumm vitae nostrae, et basis nostra

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article