GKJ Bumi Indah

Kelahiran Membawa Kehidupan

Kelahiran Membawa Kehidupan

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,

 

Pernahkah kita merasa bahwa hidup ini adalah sebuah pendakian yang tidak ada ujungnya? Sering kali, dalam kehidupan beriman, kita tanpa sadar terjebak pada pemikiran bahwa keselamatan adalah upah dari usaha kita. Kita merasa harus menjadi “cukup suci” agar Tuhan mau datang, atau “cukup baik” agar Tuhan mau memberkati. Namun, mari kita sejenak menanggalkan beban tersebut dan melihat apa yang dicatat dalam Matius 1:21-24.

1. Berhenti Menyelamatkan Diri Sendiri

Malaikat Tuhan berpesan kepada Yusuf: “Engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Pesan ini adalah pengingat keras sekaligus lembut bagi kita semua. Nama Yesus menegaskan bahwa inisiatif keselamatan sepenuhnya ada di tangan Allah. Manusia tidak pernah bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari jerat dosa; kita tidak bisa mengangkat diri kita sendiri dengan menarik tali sepatu kita sendiri.

 

Mari kita berefleksi: Di bagian mana dalam hidup ini kita masih mencoba menjadi “penyelamat” bagi diri sendiri? Mungkin melalui ambisi, melalui citra diri yang sempurna, atau melalui kebaikan yang dipaksakan. Kasih Allah yang menyelamatkan justru datang saat kita mengakui keterbatasan kita. Dia datang bukan karena kita layak, tetapi karena kita butuh.

2. Immanuel: Kehadiran yang Mengubah Segalanya

 

Matius mengutip nubuat kuno: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.

 

Saudara, kasih Allah yang menyelamatkan itu tidak bekerja dari jarak jauh. Ia bukan Tuhan yang hanya memantau kita dari takhta-Nya yang tinggi. Dalam Yesus, Ia menjadi Immanuel. Ia masuk ke dalam palungan yang kotor, ke dalam kemiskinan, ke dalam pengkhianatan, bahkan ke dalam maut.

 

Refleksikanlah ini di tengah pergumulan saudara: Jika Allah sudah beserta kita, lantas kegelapan mana yang perlu kita takuti? Keselamatan bukan sekadar tiket ke surga di masa depan, melainkan kepastian bahwa di tengah badai hidup hari ini pun, tangan-Nya sedang memegang tangan kita. Allah tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia menjanjikan kehadiran-Nya di tengah masalah tersebut.

3. Membangun Ketaatan dari Keyakinan

 

Kita melihat respons Yusuf di ayat 24: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.”

 

Yusuf adalah teladan bagi kita semua. Ia tidak banyak berdebat, ia tidak mencari panggung. Ia hanya taat. Ketaatan Yusuf lahir dari sebuah keyakinan bahwa rencana Allah—betapa pun anehnya terlihat di mata manusia—adalah rencana yang menyelamatkan.

 

Sebagai jemaat, mari kita bertanya pada diri sendiri: Apakah ketaatan kita kepada Tuhan lahir dari rasa takut, atau lahir dari rasa syukur karena telah dikasihi? Kasih Allah yang telah menyelamatkan kita seharusnya melahirkan keberanian untuk “bangun dari tidur” rohani kita dan melangkah melakukan kehendak-Nya, meskipun dunia mungkin tidak memahaminya.

 

Penutup dan Doa Refleksi Saudara-saudaraku, kasih Allah itu nyata. Ia telah menjemput saudara di titik terendah saudara. Ia tidak menunggu saudara sembuh untuk datang mengobati; Ia datang untuk menyembuhkan.

 

Mari kita jalani minggu ini dengan satu kesadaran baru: Kita dikasihi, kita disertai, dan kita telah diselamatkan. Hiduplah dalam damai sejahtera Immanuel itu.

 

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin.

Facebook
Twitter
Email
Print

Related article

Ibadah Minggu 25 Januari 2026

Ibadah pagi ini akan dilayani oleh Pdt. Aris Widaryanto, dengan tema “Dipanggil Bersama-sama untuk Memberitakan Injil.” Kiranya melalui firman Tuhan, iman kita diteguhkan dan kita

Read More →